Sabtu, 23 Juli 2016

,

Fakta Unik Dibalik Berhijab



Ilustrasi: (Dok.Net)


Hijab dalam bahasa Arab berasal dari hajaba yang berarti penghalang. Pada beberapa negara, bahkan di Indonesia, kata “hijab” lebih sering merujuk pada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tata cara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama. Mengapa wanita muslim harus berhijab? Pertanyaan ini tentunya membutuhkan jawaban yang sangat panjang. Dalam Islam, wanita muslim wajib mengenakan hijab sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Ahzab: 59 dan Q.S An-Nur: 31. Namun, tahukah Anda bahwa wanita berhijab memiliki keunikan tersendiri? Berikut beberapa fakta unik berhijab.

1. Terlindung dari Bahaya Sinar UV

Secara umum, sinar ultraviolet, terutama sinar UV-B dapat menimbulkan gejala kemerahan yang disertai gatal pada kulit. Hal ini merupakan bentuk dari terjadinya iritasi kulit akibat terkena sinar UV-B secara langsung. Dengan berhijab, setidaknya akan mengurangi risiko terjadinya iritasi pada kulit secara langsung karena hampir seluruh bagian kulit tertutup hijab. 

2. Terlindung dari Udara Dingin

Pada umumnya, tubuh yang terkena udara dingin terlalu lama akan membuat seseorang menderita demam, flu, rasa ngilu dan gemetaran pada tubuh. Terlebih bagi wanita yang cenderung tidak bisa bertahan lama jika terkena udara dingin. Untuk menghindari gejala yang ditimbulkan akibat terlalu lama terkena udara dingin, wanita disarankan menutup kepala dan tubuhnya dengan pakaian tebal demi tetap menjaga kestabilan suhu tubuh. 

3. Membuat Awet Muda

Selain menyebabkan terjadinya iritasi pada kulit, sinar matahari juga memiliki dampak buruk bagi kulit, yaitu mempercepat penuaan. Secara ilmiah dijelaskan bahwa sinar matahari dapat merangsang melanosit (sel-sel melanin untuk mengeluarkan melanin). Akibatnya, jaringan kolagen dan elastin menjadi rusak. Sedangkan jaringan kolagen dan elastin ini memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga keindahan dan kelenturan kulit. Bahkan krim pelindung pun tak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Dengan demikian, memakai hijab dapat memperlambat proses penuaan karena sebagian besar kulit tertutup oleh hijab. 


4. Terlihat Lebih Cantik

Pada umumnya, wanita akan terlihat lebih cantik jika berhijab. Bagaimana tidak? Di zaman modern sekarang ini banyak sekali macam pakaian yang diperuntukkan bagi wanita berhijab, mulai dari model hingga warnanya yang beraneka ragam. Dengan memadukan model dan warna yang serasi, Anda akan terlihat lebih cantik, anggun, juga menarik. 

5. Lebih Higienis

Bagi wanita yang bekerja di rumah makan atau rumah sakit, tentu sangat diharuskan menjaga kebersihan. Hal ini dilakukan demi kenyamanan customer. Dengan berhijab, setidaknya akan mencegah terjadinya penyebaran virus yang melekat pada tubuh. 

6. Terhindar dari Pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita merupakan sebab dari wanitanya sendiri yang tidak menutup auratnya. Wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar bagi laki-laki. Sebagaimana sabda Rasul “Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari). Maka dari itu, untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual terhadap kaum wanita alangkah baiknya jika seluruh tubuh/auratnya ditutup dengan hijab. 

Dari beberapa fakta tersebut, terjawab sudah bahwa selain wajib, berhijab memiliki beberapa fakta unik, seperti terlindung dari bahaya sinar matahari, terlindung dari udara dingin, dapat membuat awet muda, terlihat lebih cantik, lebih higienis, dan juga terhindar dari pelecehan. Bagaimana tertarikkah Anda untuk berhijab? 



Sumber :

https://duniaunik83.wordpress.com/fakta-unik-berhijab/

http://www.bicarawanita.xyz/2013/02/manfaat-kesehatan-dengan-berjilbab.html




















Rabu, 13 Juli 2016

Rabu, 27 April 2016

Rindu

Ilustrasi: (Dok.Net)


Gemuruh petir saling bersahutan. Ditambah kilat bak orang yang memotret menggunakan flash. Belum lagi, aku harus memikirkan bagaimana aku memulai tulisan ini. Tapi sekarang aku memulainya. Dengan perasaan sedikit kesal karna harus mengingat kembali apa saja yang sudah ku tulis tadi. Ya, aku harus mengulangnya lagi dari awal, tulisan sebelumnya hampir rampung, sayangnya ada kesalahan teknis sehingga mau tidak mau aku harus menulisnya kembali. Sudahlah. Aku mulai saja dengan Bismillah, tidak ditambah secangkir kopi, karna aku tak begitu suka kopi. 

Gemercik hujan menemaniku malam ini. Deras sekali. Pintu kamar yang tadinya dibuka harus kututup karna dinginnya sudah mulai menembus pori-pori kulitku. Jika hujan, rasanya aku semakin rindu pada yang sedang aku rindukan. Kamu sudah pasti kurindukan. Tapi ada dia juga yang sedang kurindukan. Kamu jangan cemburu, karna dia yang kurindukan adalah orang yang darahnya mengalir juga di tubuhku. 

Sudah lama kami tak bersua. Kurang lebih sebelas tahun. Bayangkan, itu waktu yang sangat lama. Oh betapa rindunya aku padanya. Jarak yang memisahkan kami. Aku di Bandung, dia di Jawa Tengah. Belum lagi jika dia sedang di Yogyakarta karna harus meneruskan pendidikan musiknya di Universitas Negeri Yogyakarta. Semakin jauh dan semakin sulit untuk bertemu. Paling, jika tidak sedang sibuk kuliah, sesekali dia main ke kediamanku di Bandung bersama koleganya, itu pun tak lama karna mereka harus pergi ke kota lain juga.

Ah, jika aku sedang bersamanya, dia pasti usil. Dia emang usil sih, tapi asik lah. Gara-gara usilnya dia, aku jadi tau kalau upil rasanya asin. Ku kira dia benar-benar menjilatnya, tapi ternyata tidak, dia menjilat jari yang lain, bukan jari yang ada upilnya itu. Fiuhh apalah aku ini tertipu daya olehnya. Tak apa, untungnya saat itu aku masih kecil, baru sekitar lima tahunan lah. Cukup gurih. Gaakan pernah lupa sama kejadian ini.

Tangan dan jiwanya ada pada seni. Dia suka menulis, bermain musik, juga terkadang membuat sesuatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Dalam rak bukunya hampir dipenuhi karyanya sendiri, baik itu komik, atau tulisan apapun. Dia sedikit gondrong, giginya putih bersih juga rapih, jari tangannya panjang, tapi kulitnya agak gelap, ada tahi lalat di wajahnya tepatnya di dekat mata sebelah kanan kalau tidak salah. Dia punya gitar, warnanya seperti pelangi. Aku sih gabisa main gitar, bisanya sekedar gonjreng gonjreng saja, yang penting bunyi dan aku senang. 

Saat ini aku benar-benar merindukannya, sebenarnya sudah sejak lama aku rindu. Rindu tak tertahankan. Ingin sekali jumpa rasanya. Tapi, saat ini belum bisa bertemu, karna dia sudah lebih dulu di Surga-Nya. Tak terasa sudah sebelas tahun dia di Surga-Mu. Tapi wajahmu, senyummu, masih tergambar jelas. Seolah-olah dia ada. Tuhan, peluk dia untukku. Aku sayang dia, sayang sekali. Tapi Engkau lebih sayang. 

Omku sayang, sakitmu sudah sembuh, sekarang om bisa kembali berjalan, bahkan berlari sekencang-kencangnya, tak memerlukan bantuan kursi roda lagi. Om bilang sudah punya rumah, ternyata rumahmu di Surga-Nya kan? Om bilang sudah buat undangan pernikahan dan akan segera menikah, om menikah dengan Bidadari kan? Om sudah tak sendirian lagi. Sekarang aku tak sedih lagi karna om sudah lebih bahagia di Surga-Nya. Aku memejamkan mata, seolah aku merasakan pelukanmu. Terimakasih untuk pelukan ini. Setidaknya rindu yang lama terpendam akhirnya ku lepas juga, walau belum semuanya ku lepas. Salam sayang, salam rindu, tidak dengan salam tempel.




Bandung, April 2016

Selasa, 26 April 2016

Minggu, 17 April 2016

, , ,

Lead pada Feature

Ilustrasi: (Dok.Net)

Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. Setiap wartawan selalu sadar akan perlunya lead. Keranjang sampah penuh dengan lead tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.

Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.
1. Menarik pembaca untuk mengikuti cerita.
2. Membuka jalan bagi alur cerita.

Untuk memudahkan memilih lead, kita perlu mengetahui berbagai lead, seperti di bawah ini:

Lead Ringkasan (Summary Lead)
Lead ini yang ditulis hanya inti ceritanya, kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat mengikuti kelanjutannya atau tidak. Lead ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik.

Contoh lead ringkasan:
Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jakarta Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara. (TEMPO, 30 Januari 1993, Komisi di Jatinegara).

Dari lead ringkasan di atas, pembaca akan tahu bahwa cerita yang akan disampaikan adalah tentang ketidakberesan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Jaya Wijoyo Atmodarminto.

Lead Bercerita (Narrative Lead)
Lead ini lah yang digemari penulis fiksi (novel atau cerita pendek), menarik pembaca dan membenamkannya. Tekniknya adalah menciptakan suasana dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat kekosongan yang kemudian secara mental akan diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian. Lead macam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Tapi tak semua cerita bisa cocok jika menggunakan lead ini. Maka itulah mengapa reporter harus pandai menempatkan jenis lead mana yang cocok digunakan untuk sebuah cerita. 

Contoh lead bercerita:
Panasnya terik matahari yang menyengat kulit, bukanlah halangan bagi Adun (35) lelaki paruh baya asal Sukabumi ini untuk tetap meneruskan pekerjaannya sebagai penjual langseng keliling. Demi menyambung hidupnya, ia rela mengelilingi sebagian pulau di Indonesia untuk menjual barang dagangannya itu. Ya, ia tak hanya menjual langsengnya itu di kota kembang, tempat di mana ia tinggal, tapi juga hingga menyebrangi pulau Jawa. 

Lead Kutipan (Quotation Lead)
Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara. Kutipan tidak melulu harus dari perkataan si pembicara, tapi reporter juga bisa menggunakan kutipan orang lain, dari tokoh terkenal, misalnya. 

Perlu diingat bahwa lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatka diri pada sifat cerita itu.

Contoh lead kutipan:
Photo’s Speak?! Mamprangs!!! 
Jargon yang tak asing di kalangan pembidik, seakan-akan memekakan telinga. Kampus hijau menyiasati beberapa kalangan mahasiswa khususnya jurusan Jurnalistik, mendirikan sebuah komunitas fotografi. 

Lead Bertanya (Question Lead)
Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Yang ditimbulkan dari lead ini adalah rasa ingin tahu pembaca; yang belum tahu mestinya terus ingin membacanya, sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi yang diberikan atau tidak. 

Contoh lead bertanya:
Masih ingatkah Anda dengan Dede si “Manusia Akar”?

Sama seperti lead lain, lead bertanya hanya bisa efektif bila informasi yang akan disampaikan memang secara wajar bisa diberi pertanyaan. 

Lead Menuding Langsung (Direct Address Lead)
Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead menuding langsung. Ciri-ciri lead ini adalah ditemukannya kata “Anda”, yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain. 

Lead ini secara langsung melibatkan pembaca atau langsung menyeret pembaca ke dalam suatu persoalan dan membawanya membaca tulisan secara keseluruhan. 

Contoh lead menuding langsung:
Bila harus memilih antara diet kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama. (TEMPO, 5 Februari 1994)

Berbeda dengan sebelumnya, lead ini bisa dikatakan kurang memikat, karena tak semua orang bisa ikut terlibat dalam suatu persoalan tersebut. 

Lead Menggoda (Teaser Lead)
Lead menggoda digunakan untuk “mengelabui” pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya membaca seluruh ceritanya.

Lead ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya dipakai teka-teki, dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya. 

Contoh lead menggoda:
Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50. (TEMPO, 4 Januari 1992, “Angka Misterius Santa Cruz”) 

Dari kalimat itu, pembaca akan penasaran, keingintahuannya dibangkitkan. Dan untuk memenuhi keingintahuannya itu, mau tak mau pembaca harus melanjutkan membacanya hingga selesai. 

Lead Nyentrik (Freak Lead)
Hijau sayuran
Putihlah susu
Naik harga makanan
Ke langit biru

Reporter yang imajinatif meskipun tidak puitis bisa mencoba lead seperti ini pada saat menulis informasi kenaikan harga. Lead ini memikat dan informatif. Gayanya yang khas dan tak kenal kompromi itu bisa menarik pembaca hingga ceritanya bisa laku. 

Lead Kombinasi (Combination Lead)
Di surat kabar sering ditemukan lead yang merupakan kombinasi dari dua atau tiga lead, dengan mengambil unsur terbaik dari asing-masing lead

Lead Kutipan sering dikombinasi dengan Lead Deskriptif.

“Bukan salahku bahwa aku belum mati sekarang,” kata Fidel Castro dengan senyum lucu. (TEMPO, 7 Mei 1994, “Castro, Revolusioner yang Belum Pensiun”). 

Lead Menggoda bisa dikombinasikan dengan Lead Kutipan, Lead Naratif dengan Lead Deskriptif, dan seterusnya selama lead tersebut bisa menarik minat pembaca.


Sumber referensi:
Mohamad, Goenawan. 2014. Seandainya Saya Wartawan TEMPO. Jakarta, Tempo Publishing. 









Sabtu, 16 April 2016

, , ,

Berkeliling Indonesia dengan Langseng

Ilustrasi (Dok.Imajinad)
Panasnya terik matahari yang menyengat kulit, bukanlah halangan bagi Adun (35) lelaki paruh baya asal Sukabumi ini untuk tetap meneruskan pekerjaannya sebagai penjual langseng keliling. Demi menyambung hidupnya, ia rela mengelilingi sebagian pulau di Indonesia untuk menjual barang dagangannya itu. Ya, ia tak hanya menjual langsengnya itu di kota kembang, tempat di mana ia tinggal, tapi juga hingga menyebrangi pulau Jawa. 

Sepak terjal angkuhnya roda kehidupan ini Adun lalui dengan berjualan langseng keliling sejak 2004. Kota pertama yang ia putuskan menjadi tempat ia berjualan langseng yaitu di kota Sukabumi. Selain kota di mana ia dilahirkan, ia beranggapan bahwa di sana peminat langseng cukup ramai, sehingga ia putuskan untuk berjualan di kota yang terkenal dengan Moci nya ini.

Bekerja banting tulang setiap hari, berjalan puluhan kilometer sudah biasa ia lakoni. Banyak suka duka yang ia rasakan dalam menjalani pekerjaannya ini. Penghasilan yang tak pasti ia dapatkan setiap harinya tak membuat pria bertubuh kurus ini memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Ia tetap semangat menekuni pekerjaan ini. “Penghasilan mah gak tentu, namanya juga jualan, kalau lagi rame ya rame, kalau lagi sepi ya sepi, gimana kita rezekinya aja,” kata Adun. Di era modern ini memang peminat langseng semakin berkurang, ditambah lagi sekarang sudah banyak alat canggih yang ditawarkan untuk memasak nasi dengan lebih cepat dan praktis, tentu saja sebagian besar masyarakat khususnya masyarakat perkotaan lebih memilih untuk menggunakan alat canggih tersebut. “Yang penting cukup untuk kemauan, kalau pengen makan ayam cukup uangnya, ya gitu,” tambah Adun saat ditemui di tempat produksi langseng yang sedang mempersiapkan barang dagangan yang akan ia bawa ke Sukabumi. 

Dengan pekerjaannya ini, ia mengaku senang menjalaninya. Dari berjualan langseng lah ia bisa berkeliling Indonesia, di antaranya pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Jayapura sudah pernah ia kelilingi sambil berjualan langseng.


Bandung, April 2016